Mahasiswa Unej Kembangkan Briket dari Sekam Padi

Termotif saat Melihat Industri Kerupuk Kesulitan BBM

tingginya harga bahan bakar minyak ( BBM ) bersubsidi membuat kerupuk kelimpungan. yiga mahasiswa universitas jember ( Unej ) jalal rosyidin soelaiman, ahmad mustakim, dan agung B. Aji merasa terpanggil untuk mengatasi masalah BBM bagi industri krupuk. salah satunya dengan mengembangkan briket dari padi.

KERUPUK merupakan makanan sangat akrab bagi lidah masyarakat indonesia. tapi, mungkin bekm banyak yang tahu jika untuk mendapatkan kerupuk yang renyah perlu penggorengan api panas yang konstan. ini artinya di butuhkan bahan bakar yang cukup untuk menyalakan kompor.

sejumlah pengusaha kerupuk memilih menggunakan elpiji. ada juga yang memakai minyak tanah, bahkan kayu bakar sebagai bahan bakar. hanya, menggunakan ketiga jenis bahan bakar itu memiliki kelemahan. pemakaian elpiji terkadang terkendala persediaannya di pasar. sedangkan harga minyak tanah kini sangat tinggi karena tidak ada lagi subsidi.

sementara, pemakaian kayu bakar berpotensi menyebabkan kerusakan alam. permasalahan ini menjadi pemikiran jalal rosyidin soelaiman, ahmad mustakim, dan agung B.Aji, ketiganya mahasiswa jurusan fisika fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam ( FMIPA ) universitas jember ( Unej ).

” awalnya kami mendapatkan tugas mata kuliah biofisika dengan tema mengenai pemanfaatan potensi keanekaragaman hayati disekitar kita untuk bahan bakar alternatif,” jelas jalal.

kebetulan, agung B.Aji menemukan fakta di desanya, di dukuh dempok, wukuhan, jember terdapat pengusaha kerupuk yang masih menggunakan kayu bakar untuk menggoreng kerupuk. “informasi ini kami tindak lanjuti dengan observasi di lapangan sekaligus berkonsultasi dengan dosen pengampu mata kuliah bio fisika,” kata agung.

dari kegiatan turun ke lapangan, jalal dan kawan – kawan berusaha menemukan bahan bakar alternatif pengganti kayu bakar. mereka menemukan bahan alternatif itu pada sekam padi. ” sebenarnya sekam padi sudah lama digunakan sebagai salah satu bahan bakar oleh masyarakat di desa, tapi penggunaannya dengan membakar sekam padi begitu saja. misalnya, pada pembuatan batu bata,” nkata jalal yang asli tuban ini.

padahal, jika diberikan sentuhan teknologi tepat guna ( TTG ), sekam lebih bermanfaat. kebetulan, sekam padi sangat udah ditemukan di perdesaan. kemudian ketiga serangkai ini mencari literatur untuk mendukung penelitian mereka.

dari hasil studi pustaka dan konsultasi dengan dosen, mereka menemukan fakta bahwa sekam padi harus dipanaskan dahulu agar menghasilkankalor atau panas dengan maksimal. mirip kayu bakar yang di ubah menjadi arang. ” caranya kami membuat cerobong dari besi setinggi kurang lebih semeter dengan bagian bawahnya berlubang. cara pemakaiannya dengan bagian bawahnya berlubang. cara pemakaiannya dengan membakar sisa kayu, sampah, atau bahan yang lain di bawah cerobong,” sementara, dekam padi ditempatkan di seputeran bagian bawah cerobong,” jelas mustakim.

proses pemanasan ini berlangsung lima menit. ketiga mahasiswa ini biasanya menempatkan sekam padi sebanyak lima belas sampai dua pukuh kilogram untuk sekali proses pemanasan. ” sekam yang sudah dimasak tadi kemudian dicampur dengan air dan tepung kanji dengan komposisi, 1.200 gram sekam padi dicampur dengan 2 litter air kemudian ditambah 300 gram tepung kanji yang berfungsi sebagai perekat,” jelas jalal.

campuran tadi kemudian sicetak dengan bentuk silinderdengan bagian tengah berkubang dengan ukuran tinggi 10 cm dengan berdiameter 11 cm. barang tersebut lalu diberi nama briket sekam. briket sekam padi ini kemudian di jemur hingga kering. dari paduan komposisi tadi, bisa di dapatkan empat briket sekam padi kering dengan berat masing – masing 300 sampai 350 gram. jika dirupiahkan satu briket hanya seharga tujuh ratus rupiah.

ternyata, satu buah briket sekam padi hasil karya jalal dan kawan – kawan mampu menghasilkan panas api yang konstan dengan suhu mencapai 400 – 500 derajat celsius selama satu setengah jam. ” briket sekam padi ini kemudian kami tawarkan ke pengusaha kerupuk di desa dukuh dempok, yakni pak sujito,” ujar jalal. ternyata briket sekam padi buatan jalal dan kawan – kawan di sukai sang pengusaha kerupuk.

menurut sujito, penggunaan briket sekam padi membuat pengeluaran untuk bahan bakar menjadi jauh bekurang. sebelumnya, untuk mengoreng sekwintal kerupuk, sujito harus membeli kayu bakar sehrga empat pukuh ribu rupiah. harga kayu ini akan naik jika musim hujan telah tiba. ” sementara, memakai briket sekam padi hanya perlu 16 sampaio 20 buah briket sekam padi, “tutur sujito.

sujito menambahkan, dirinya cukup puas dengan kinerja briket sekam padi buatan mahasiswa kampus tegalboto ini. pasalnya api yang dihasilkan panasnya konstan, asap hasil pembakaran juga sangat berkurang. penggunaan briket sekam padi juga lebih aman karena nyala apinya tidak berkobar kobar. “kerupuknya jadi renyah dan yanbg paling penting memakai briket sekam padi ini lebih irit, ” kata mantan petani tembakau ini.

briket sekam padi karya jalal dan kawan – kawan ternyata tidak hanya mencari minat sang pengusaha kerupuk. beberapa karyawan sutijo telah mencoba , membuat, dan menggunakan briket sekam padi untuk keperluan rumah tangganya. mereka menempatkan sekam padi dibawah tempat mengukus kerupuk. sementara tepung kanji diambilkan dari bahan sisa pembuat kerupuk.

briket sekam padi ini kemudian di bentuk silinder kecil penggunaannya untuk sekadar masak dirumah. ” usul saya, bagaimana jika tepung kanji di ganti dengan bahan lain agar briket sekam padi bisa lebih murah, mengingat harga tepung kanji yang masih cukp mahal,” ujar pengusaha kerupuk produksinya sampai ke banyuwangi, bondowoso, dan probolinggo ini.

Dra Ari Y. Nurhayati, Msi dosen pembimbing jalal dan kawan – kawan menambahkan, pembuatan briket sekam padi ini selain bertujuan mengurangi dampak perusakan dan mencari bahan bakar alternatif, juga dapat membuka lapangan usaha baru. misalnya, usaha pembuatan briket sekam padi dan kompornya. hanya, briket sekam padi yang dibuat jalal dan kawan – kawan lebih cocok digunakan industri rumah tangga atau industri kecil.

penggunan briket sekam padi untuk skala rumah tangga memerlukan inovasi lebih lanju. ” briket sekam padi yang ada sekarang puny kelemahan, yakni perlu waktu untuk menyalakan karena mirip arang. dan jika sudah menyala, susah dimatikan. selama ini jika ingin mematikan caranya disiram dengan air untuk kemudian dijemur agar bisa dipakai lagi. tentu cara ini kurang praktis,” jelas ari.

karya jalal dan kawan – kawan mendapat apresiasi dari berbagai pihak. terbukti pembuatan briket sekam padi ini berhasil mendapatkan dana dari progam kreativitas mahasiswa ( PKM ) bidang pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan oleh Ditjen Dikti Kemdikbud pada mei 2012. bersama dua rekannya, jalal mendapat bantuan dana sebesar Rp. 7,2 juta rupiah.

” uangnya sebagian besar kami gunakan untuk membuat cerobong memasak sekam padi. kalau untuk sekam padi harganya murah. didesa dukuh dempok untuk satu dedet ( jenis mobil pengangkut di desa ) harganya hanya tiga ratus ribu rupiah,” kata agung kagi.

jalal juga mewakili kawan – kawannya maju ke ajang tahunan bayer young enviromental envoy 2012 2012 pada september lalu dijakarta. ajang bayer young enviromental enjoy 2012 adalah ajang adu ide dan kreasi mahasiswa dalam usaha pelestarian alam. jalal berhasil mencapai babak final yang di ikuti 12 peserta dari seluruh indonesia. ” sayangnya proyek kami ini belum berhasil menjadi juara,” ujar alal. (*/c1 )

SUMBER: RADAR JEMBER 8 DESEMBER 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s